Wednesday, March 15, 2017

Aku dan Sepi

Pada akhirnya hanya akan ada aku dan sepi
Jika kau lelah
Pergilah
Selalu kau butuhkan orang lain untuk kembali padaku

Tuesday, March 7, 2017

Aroma Bawang dan Merica

Remang bioskop sinari wajah wajah lugu
Mata berkedip ikuti alunan degub
Semakin sering
Semakin bertalu

Kusandarkan tubuh pada tubuhmu
O harum
Aroma bawang dan merica
Menggugah selera

Antara yakin dan malu
Kuhirup lagi aromamu
O selaksa candu

Tubuh kian dekat
Gravitasi kian lekat
Gairah dalam otakku makin pekat
Enyahlah kau sekat

O remang
O ragu
Leburlah jadi satu

Bertahun bertali pikiran dan imaji
Inilah saaatnya
O tubuh

Tik tok

Tik tok

Tik

Masih jua diam

Jantung jantung berontak
Menggema diantara dentum bass musik lantak

Kukecup pipi
O remang
O ragu
Lebur jadi satu

Bibir bibir bersahutan
Mencipta melodi klasik
Mari dendangkan musik
O lidah
Menari riang penuh syahdu

Degub kian bertalu
O remang
O ragu
Begini nikmat menyatu

Monday, February 27, 2017

Konon Katanya

Di sebuah negeri antah berantah
Konon katanya, manusia sedang berlomba
Berlomba menjadi orang paling suci

Beberapa mengutip ayat
Beberapa berteriak kalap
Konon katanya, surga abadi yang dinanti

Sebagian,
Sebagian kecil dari yang banyak
Memanusiakan manusia
Mengaktualisasikan diri sendiri
Konon katanya, mereka antek duniawi

Sebagian,
Sebagian dari yang banyak
Mencaci norma
Mengutuk takdir
Konon katanya, mereka kelak terbakar panas api

Di sebuah negeri antah berantah
Konon katanya




Sunday, February 5, 2017

Bleu, je suis à toi

Dulu
Dulu sekali
Biru meneteskan air mata
Membentuk kantung
Memburamkan tajam

Kali ini
Biru mengecat langit saat kita menjamah kota tua
Menorehkan wibawa pada batik terindah di museum
Mewarnai manipulasi untuk bisa lebih mudah bersembunyi

Aku yakin aku mengenal biru
Dulu
Dulu sekali
Sejak biru masih dalam racikan peramu warna

Kali ini
Biru menyapa
Imajiku terjebak pada ritme detak jantung yang tak beraturan
Tubuhku menempel pada lekukan yang sempurna diciptakan untuk membuatku nyaman
Ternyata ini biru
Yang selama ini tak lebih kusukai dari merah

Thursday, April 28, 2016

Dicekik Rindu Bertubi

Kutitipkan rindu pada hujan
Pantas tak jua sampai
Di tempatmu kini musim semi
Rindupun kembali

Dalam kosmik
Jarak kita setitik
Menurut ilusi waktu
Setengah hari antara kau dan aku
Rindu hilang arah

Sedangkan
Rumah kita
Tak berpijak bumi
Rindu bersarang

Kau bilang kapanpun aku boleh pulang
Aku yang gagal memahami bahwa kau tak janji menemani
Tanpamu
Di rumah itu
Rindu menggigil

Aku ini
Tak tahu diri
Baiknya begini
Dicekik rindu bertubi


Duduk Bersama Poppy Kecil

Hujan lebat
Poppy kecil memandang ke arah gerbang
Menikmati gemercik air

Kami sama sama diam
Sesekali Poppy kecil menghentakkan kaki
Girang

Entah apa di benaknya
Sampai saat ini yang kulakukan hanyalah monolog
Berpura pura menjadi dirinya
Merespon pernyataanku sendiri

Poppy masih diam
Sesekali tersenyum
Aku yang berlebihan
Kuanggap saat ini sakral
Kami... di dalam intersection diagram ven kami... tak perduli apapun
Kecuali hujan

Duduk bersama Poppy kecil
Menikmati hujan
Duniaku kecil
Bahagiaku besar besaran

Monday, March 10, 2014

"Persetan!", kata Selatan

Jarum kompas menghamba kepada Utara
Utara dengan simbol U
U menampung air matamu
U menyajikan madu

Ilusi matahari menciptakan mula pada ufuk Timur
Pemasok vitamin D bagi mereka yang berjemur

Ia kemudian menciptakan senja di sisi Barat
Melukis indahnya sekarat

Ada yang tak tersentuh jarum
Tak terpeluk matahari
Sumbu keseimbangan menamai dirinya Selatan
Satu kata yang sering terlontar dari mulutnya:
"Persetan!"